Apakah sense parent sering melihat si kecil mudah menangis tanpa sebab yang jelas, sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, atau justru meledak ketika merasa kelelahan? Jika iya, ini bukan berarti anak Anda berperilaku buruk.
Bagi banyak anak dengan gangguan pemrosesan sensorik Sensory Processing Disorder, autisme, ADHD, atau kecemasan, dunia terasa jauh lebih intens dibanding yang kita rasakan. Suara, cahaya, tekstur, dan situasi sosial bisa memicu respons emosional yang luar biasa besar. Kabar baiknya, ada cara yang menyenangkan, berbasis bukti ilmiah, dan terbukti efektif untuk membantu mereka yaitu sensory play atau bermain sensorik.
Di Sensory Land Kids, sebagai Pusat Tumbuh Kembang Anak dengan konsep alam dan Aviary pertama di Indonesia, kami telah mendampingi ratusan keluarga dalam perjalanan ini dengan pendekatan unik yang memadukan alam dan stimulasi sensorik yang terarah.
Bermain sensorik bukan sekadar kegiatan ‘seru-seruan’. Ada landasan ilmiah yang kuat di baliknya.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Occupational Therapy (Schaaf & Mailloux, 2015) menemukan bahwa intervensi berbasis sensorik secara signifikan meningkatkan kemampuan regulasi diri anak dengan SPD. Sementara itu, aktivitas sensorik terstruktur dapat menurunkan kadar kortisol (hormon stres) pada anak-anak dengan kecemasan.
Lebih jauh, Dr. Jean Ayres terapis okupasi yang pertama kali mengembangkan teori Sensory Integration menerangkan bahwa ketika otak anak berhasil memproses informasi sensorik dengan baik, kemampuan regulasi emosi mereka pun ikut berkembang. Anak menjadi lebih mampu menenangkan diri sendiri saat merasa cemas, lebih siap belajar, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan lingkungan
Inilah yang membuat Sensory Land Kids benar-benar berbeda. Sebagai Pusat Tumbuh Kembang Anak dengan konsep alam dan Aviary, kami mengintegrasikan elemen alam nyata seperti tanah, air, tanaman, dan burung ke dalam sesi terapi sensorik anak.
Mengapa ini penting? Penelitian dalam bidang ecotherapy (terapi berbasis alam) konsisten menunjukkan bahwa paparan alam menurunkan kecemasan dan meningkatkan mood, bahkan pada anak-anak usia dini. Studi dari Environment and Behavior (Kuo & Taylor, 2004) menemukan bahwa anak dengan ADHD yang beraktivitas di lingkungan hijau menunjukkan konsentrasi yang lebih baik dibanding mereka yang beraktivitas di ruangan tertutup.
Di Sensory Land Kids, setiap sesi dirancang oleh terapis berpengalaman dengan mempertimbangkan profil sensorik unik setiap anak. Beberapa aktivitas yang kami gunakan antara lain aktivitas proprioseptif & vestibular, taktil dan bermain di alam terbuka. Semua aktivitas ini bukan sekadar bermain ini adalah play based therapy, dirancang untuk membantu sistem saraf anak menemukan keseimbangannya.
Setiap anak berbeda, namun berikut beberapa tanda yang sering dilihat orang tua sebelum membawa anaknya ke Sensory Land Kids:
- Sering tantrum intens yang sulit diredakan
- Menghindari tekstur tertentu secara ekstrem (makanan, pakaian, permukaan)
- Sangat sensitif terhadap suara keras atau cahaya terang
- Sebaliknya, tampak “tidak merasakan” sakit atau tidak menyadari batasan tubuh
- Sulit beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain
- Mudah cemas di tempat baru atau situasi yang tidak familiar
Jika Anda mengenali 2 atau lebih tanda di atas pada anak Anda, konsultasi kan terlebih dahulu dengan dokter spesialis tumbuh kembang. Karena setiap anak berhak mendapat ruang yang aman untuk tumbuh dengan cara mereka sendiri.
Di Sensory Land Kids, pusat Tumbuh Kembang Anak dengan konsep alam dan Aviary kami percaya bahwa dengan stimulasi yang tepat, setiap anak memiliki potensi luar biasa untuk berkembang.
Kami siap melakukan asesmen sensorik awal, merancang program yang sesuai dengan kebutuhan sense kids, dan mendampingi sense parents di setiap langkah perjalanan ini dengan lingkungan yang hangat, alami, dan penuh kasih di temani oleh tim Sensory Land Kids.
Hubungi kami untuk konsultasi dengan dokter tumbuh kembang agar mendapatkan asesmen lebih lanjut dan jadwalkan kunjungan pertama sense kids ke Sensory Land Kids. Karena perjalanan seribu langkah dimulai dari satu langkah kecil yang berani.
Refrensi:
Schaaf, R. C., & Mailloux, Z. (2015). Clinician’s guide for implementing Ayres sensory integration: Promoting participation for children with autism. Bethesda: AOTA Press, The American Occupational Therapy Association, Incorporated.
Kuo, F. E., & Faber Taylor, A. (2004). A potential natural treatment for attention-deficit/hyperactivity disorder: evidence from a national study. American journal of public health, 94(9):1580-1586.
Nagengast, S.L. (1992). The effects of the presence of a companion animal on physiological and behavioral distress in children during a physical examination. Theses & Dissertations 1963-2015:915.